Ki Mawuk: Ulama Keturunan Banten di Mauk dan Jejak Sejarahnya

Ki Mawuk: Ulama Keturunan Banten di Mauk dan Jejak Sejarahnya Ki Mawuk: Ulama Keturunan Banten Jejak Sejarah di Mauk dan Sekitarnya Kisah lengkap Ki Mawuk, keturunan Pangeran Banten yang berdakwah di pesisir Tangerang. Jejak perjuangan spiritual dan silsilah keluarga ulama yang mengakar di Mauk. Asal Usul dan Silsilah Pangeran Mawuk Dalam versi Naqobah , disebutkan bahwa Pangeran Arya Abdul Alim memiliki tiga putra: Pangeran Muhammad Gadjih Pangeran Aria Ing Ngawangga Pangeran Muhammad Chan, yang dikenal sebagai Pangeran Mawuk Pangeran Mawuk diyakini sebagai tokoh penerus dari jalur tersebut yang bermukim dan berdakwah di kawasan Mauk, menjadikannya pusat aktivitas keagamaan, sosial, dan pendidikan Islam. Jejak Dakwah di Pesisir Mauk Istri dari Pangeran Mawuk adalah seorang perempuan Muslim Tionghoa dari kawasan pesisir Teluk Naga yang hijrah ke...

Sejarah Pejuang dan Ulama Mauk: Pangeran Kali Mangun & Keturunan Raden Aria Kabal

Pangeran Kali Mangun Jaya Kusuma, tokoh sejarah Mauk Tangerang

Jejak Sejarah Pejuang dan Ulama di Mauk

Pangeran Kali Mangun Jaya Kusuma dan Keturunan Rd. Aria Kabal

Perjuangan di Wilayah Mauk

Wilayah Mauk, yang kini berada di Kabupaten Tangerang, menyimpan sejarah penting perjuangan dakwah Islam dan pergerakan bangsawan Banten. Salah satu tokoh yang dikenal adalah Pangeran Kali Mangun Jaya Kusuma. Beliau menetap di Rawa Kalem, Kampung Gunung dan menjadikan tempat tersebut sebagai pusat dakwah. Saat wafat, jenazah beliau dibawa ke Bogor dan dimakamkan di sana.

Namun perjuangan di Mauk tidak beliau lakukan seorang diri. Bersama beliau, turut berperan putra-putri dari Raden Aria Kabal, salah satu tokoh penting yang bermukim di Kali Pasir, Tangerang.

Keturunan Raden Aria Kabal

Raden Aria Kabal, tokoh bangsawan dari Kali Pasir, Tangerang, memiliki keturunan yang berperan dalam perjuangan di Mauk:

  • Raden Saip Suradipa
  • Nyi Mas Lasmining Pura
  • Nyimas Melati (Lasmining Puri)
  • Raden Lukman

Nyimas Melati dikenal sebagai sosok perempuan cerdas dan tegas, meskipun tidak menikah dan tidak memiliki keturunan kandung. Beliau berperan besar dalam pendidikan generasi muda saat itu.

Makam Raden Aria Kabal

Raden Aria Kabal sendiri dimakamkan di Kali Pasir, Tangerang, tepat di belakang Masjid Tertua di Tangerang—sebuah lokasi sakral yang menjadi bagian dari sejarah penyebaran Islam di kawasan tersebut

Nasab Pangeran Arya Abdul Alim (Versi Naqobah)

Pangeran Arya Abdul Alim memiliki tiga putra yang dikenal dalam sejarah Banten:

  • Pangeran Muhammad Gadjih
  • Pangeran Aria Ing Ngawangga
  • Pangeran Muhammad Chan (Pangerang Mawuk)

Tiga Tokoh Legendaris Mauk: Siapa Mereka Sebenarnya?

  1. Ki Mawuk: Seorang tokoh keturunan bangsawan Banten, yang berasal dari jalur Pangeran Abdul Alim, Putra dari Pangerang Awuk dan Istrinya berasal dari Teluk Naga (Tionghoa Muslim) yang hijrah ke pesisir Tanjung Kait. Namanya diabadikan menjadi nama wilayah Mauk.
  2. Wedana Mauk: Bukan tokoh adat atau ulama, melainkan pejabat kolonial yang ditugaskan di wilayah Mauk.Pejabat kolonial pertama di Mauk, yaitu Raden Anta Kusumah(1870–1874).
  3. Buyut Mawuk: Tokoh Tionghoa yang dimakamkan di Mauk, namun data lengkap tentang dirinya masih minim.

Penutup

Wilayah Mauk memiliki peran penting dalam sejarah perjuangan, dakwah, dan persilangan budaya. Kisah tokoh-tokoh seperti Pangeran Kali Mangun Jaya Kusuma, Nyimas Melati, dan Ki Mawuk mencerminkan identitas lokal yang perlu dijaga dan diwariskan.

Daftar Wedana Mauk (1870–1942)

Berikut adalah daftar para Wedana Mauk dari zaman kolonial:

  1. Rd. Anta Kusumah (1870–1874)
  2. Mas Kasim (1874–1887)
  3. Rd. Moh. Suradiningrat (1887–1894)
  4. Rd. Hasan (1894–1903)
  5. Rd. Kanduruan Suradi Kusumah (1903–1908)
  6. Raja Sabarudin (1908–1909)
  7. Rd. Mas Wangsa Atmaja (1911–1916)
  8. Moh. Sanik (1916–1917)
  9. Rd. Suriaatmaja (1917–1918)
  10. Mas Yudoatmojo (1918–1921)
  11. Mas Wirodimejo (1921–1924)
  12. Rd. Sutandoko (1924–1929)
  13. Rd. Jayusman (1929–1933)
  14. Rd. M. Tabri Danusaputra (1933–1934)
  15. M. Sutadisastro (1934–1935)
  16. M. Moh. Denda Wacana (1936–1937)
  17. Rd. Kartaamiharja (1937–1939)
  18. Rd. Adiamijaya (1939–1942)

Baca juga: Jejak Sejarah Pangeran Abdul Alim, Putra Sultan Ageng Tirtayasa: Laksamana Laut dan Ulama Pesisir Utara Tangerang

Ditulis oleh: Majlis Assyadziliyah Mauk

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jejak Sejarah Pangeran Abdul Alim, Putra Sultan Ageng Tirtayasa: Laksamana Laut dan Ulama Pesisir Utara Tangerang

Ki Mawuk: Ulama Keturunan Banten di Mauk dan Jejak Sejarahnya